Sabtu, 23 April 2011

PERINGATAN HARI KARTINI


Setiap bulan April, bangsa Indonesia selalu memperingati salah satu hari nasional kita, yaitu peringatan hari Kartini yang tepatnya jatuh pada tanggal 21 April setiap tahunnya. Sebenarnya , apa dan siapakah Ibu RA Kartini itu, yang setiap tahun selalu kita peringati yang terutama sekali yang selalu dikait-kaitkan dengan perkembangan emansipasi wanita.
      Peringatan yang kita lakukan setiap tanggal 21 April, selalu diwarnai dengan maraknya peragaan busana yang bernuansa adat, karnaval dengan menggunakan busana adat daerah, lomba pembacaan puisi, seminar tentang kewanitaan dan emansipasinya dan sebagainya. Namun untuk lebih mengetahui secara pasti, apa yang membuat beliau patut untuk kita kenang dan kita renungkan jasa dan pemikiran beliau, mungkin kita perlu mengenal lebih dekat, siapa dan bagaimanakah sosok dari Ibu Kartini itu.
      Ibu Kartini atau lebih tepatnya Ibu Raden Adjeng Kartini lahir di kota Jepara propinsi Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879,dan beliau meninggal di kota Rembang propinsi Jawa Tengah pada tanggal 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
      Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, yang merupakan puteri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bupati Jepara pada waktu itu. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, puteri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.
      Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
      Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
      Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satu sahabatnya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
      Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
      Karini melahirkan anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun, dan beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
      Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
      Hasil karya pemikiran Ibu Kartini yang sampai dengan saat ini selalu menjadi acuan dan motivasi terutama untuk kalangan wanita Indonesia adalah merupakan kumpulan dari surat-surat yang dikirimkannya kepada para sahabat-sahabatnya yang berada di Belanda. Kumpulan surat-surat itu kemudian disusun menjadi sebuah buku dan diterbitkan menjadi sebuah karya yang berjudul “ Habis Gelap Terbitlah Terang”.
      Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
      Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
      Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
      Saat sekarang ini, kita selalu memperingati hari Kartini dengan banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang sebenarnya hanya bersifat monoton. Kegiatan-kegiatan tersebut, hanya sebatas karnaval dengan menggunakan baju adat daerah, peragaan busana adat, pembacaan puisi tentang kartini dan beberapa kegiatan yang hanya bersifat formal. Pada tingkatan pendidikan dasar, peringatan tersebut mungkin cukup untuk mengenalkan kepada anak-anak kita untuk mengenal siapakah sosok dari RA Kartini, namun seharusnya apa yang kita lakukan bisa lebih dari itu.  

Selamat Hari kartini, dan selalu tetap bersemangat untuk meningkatkan emansipasi dari kaum wanita namun dengan tidak mengesampingkan kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan di dalam ajaran agama.

Buat para Ibu-Ibu Indonesia


By Desy Ratnaharyani

Referensi :

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kenapa ditujukan untuk ibu-ibu Indonesia? sepertinya lebih pas untuk seluruh kaum hawa, walaupun secara tidak lgsg juga menginspirasi kaum adam

Template by : kendhin x-template.blogspot.com